Peluang Kredit Usaha Pembibitan Sapi atau KUPS

Sapi Brahman CrossSetelah sempat tersendat di Lapangan Banteng, gedung Departemen Keuangan akhirnya Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati meneken Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) tentang Kredit Usaha Perbibitan Sapi (KUPS) pada 18 Agustus lalu. Padahal, Departemen Pertanian berharap Permenkeu itu sudah keluar sejak awal tahun 2009 .

Dengan sokongan KUPS, hitung-hitungan Deptan dapat menambah populasi sapi sebanyak 1 juta ekor hingga 2013, sehingga pada 2014 target swasembada daging bisa tercapai. Jumlah itu terdiri dari 80% atau 800.000 ekor adalah sapi potong dan 20%-nya atau 200.000 ekor sapi perah.

Dirjen Peternakan Departemen Pertanian, Tjeppy D. Soedjana mengatakan, KUPS merupakan skim kredit bersubsidi. Dalam program ini, peternak atau pelaku usaha yang mendapatkan kredit hanya membayar bunga sebesar 5% dari bunga komersial yang berlaku. Sedangkan selisih bunga menjadi tanggungan pemerintah.

Dia mengakui, saat ini usaha pembibitan sapi di tingkat peternakan rakyat berjalan sangat lambat. Perusahaan swasta juga belum banyak yang terjun ke usaha tersebut. Ini karena untuk mendapatkan kredit usaha dikenakan suku bunga komersial sebesar 13%-14%. Padahal, bunga sebesar itu sangat tidak layak bagi usaha pembibitan sapi. “Untuk itu, perlu iklim yang mendorong swasta. Caranya melalui kredit dengan bunga rendah sebesar 5%,” ujarnya.

Dengan keluarnya KUPS ini, pemerintah berharap target pemerintah untuk mencapai swasembada daging pada 2014 bisa tercapai. Selama lima tahun (2009-2013), diharapkan ada penumbuhan minimal 50 industri perbibitan swasta dan pusat pembibitan di masyarakat sebanyak 11.310 kelompok. Selain itu adanya peningkatan populasi sapi betina sebanyak 1,6 juta ekor dan memberikan lapangan kerja sekitar 514.000 orang.

Gunawan menjelaskan, pada tahap awal nantinya pemerintah akan memfasilitasi kredit investasi bersubsidi (subsidi bunga) kepada pengusaha untuk pengadaan bibit sapi, baik yang siap atau sudah bunting. Kemudian sapi turunan hasil usaha pembibitan tersebut, terutama yang betina akan didistribusikan ke kelompok peternak binaan atau kemitraan. Sedangkan sapi jantan digunakan pengusaha untuk tujuan penggemukkan.

Itu sebabnya, pemerintah mencoba menerobos kebuntuan tersebut melalui program Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS). Lewat skim ini, pengusaha ternak sapi diberikan kredit investasi dengan hanya membayar bunga 5% melalui perbankan. Sisa bunga kredit komersial itu (8%-10%) akan dibayar pemerintah.

Deptan sendiri menargetkan 20-30 perusahaan dan 1.800 kelompok peternak yang akan mengikuti program ini dengan sejumlah kriteria. Pertama, memiliki potensi mengembangkan pembibitan ternak sapi. Kedua, bersedia melakukan program good breeding practice. Ketiga, bersedia mengembangkan program kredit bersubsidi. Keempat, mau melakukan kemitraan.

Menurut Dirjen Peternakan Tjeppy D. Soedjana, kredit yang diberikan dipakai untuk membeli sapi betina produktif eks impor. Nantinya, hasil turunan sapi betina akan dibeli pemerintah untuk dibagikan secara bergulir kepada 1.100-1.1800 kelompok peternak pembibit untuk dikembangkan dengan pengembalian menggunakan pola tertentu.

Setiap kelompok akan memelihara 50 ekor sapi betina yang dilengkapi sebuah digester biogas (bernilai Rp30 juta) dan satu unit alat pengolah pupuk organik yang disediakan pemerintah untuk empat kelompok. Hal yang sama juga berlaku untuk perusahaan pembibitan.

Untuk skim kredit ini, perusahaan butuh dana sekitar Rp120 miliar (10.000 ekor x Rp12 juta/ekor) yang disediakan bank dengan bunga yang ditanggung pemerintah sekitar Rp9,6-12 miliar. Untuk melayani 20-30 perusahaan pembibitan, berarti bank akan menyediakan dana sekitar Rp2,4-3,6 triliun. Sementara subsidi bunga yang disediakan pemerintah berkisar antara Rp192 miliar sampai Rp360 miliar.

Sementara 1.100-1.800 kelompok peternak nantinya akan memanfaatkan sapi bibit komersial yang dihasilkan perusahaan dengan jumlah 55.000-83.400 ekor sapi betina umur 6 bulan. Dengan asumsi harga Rp6 juta/ekor, berarti pemerintah harus memasok dana Rp330 miliar sampai Rp500 miliar. Sedangkan untuk digester biogas, dengan asumsi Rp30 juta/unit, dana yang dibutuhkan pemerintah Rp33 miliar sampai Rp54 miliar, dan alat pengolah pupuk organik antara Rp8,25 miliar sampai Rp13,5 miliar (275-450 unit).

sumber: agroindonesia.co.id

8 thoughts on “Peluang Kredit Usaha Pembibitan Sapi atau KUPS

  1. Ass.Wr.Wb.
    Saya sangat tertarik dg program tersebut yang bertujuan utk meningkatkan populasi ternak dan tentunya meningkatkan pendapatan peternak,tapi satu hal yang mesti kita rubah secara ekstrim adalah tataniaganya,yaitu jual beli ternak dengan timbang hidup seperti sapi import,kadang2 eropa lebih islami dari pada kita.kalau ini bisa dijalankan ada kejelasan analisa usaha bagi seluruh pelaku tataniaga peternakan.INSYA ALLAH Program ini bisa berjalan dg baik Amiiin.

    • waslm, oke pak mahmud..mekanisme timbang memang bisa melegakan kedua belah pihak….perlu sosialisasi dan perintis. karena kebanyakan pedagang tidak mau mekanisme timbang….

  2. Ass,

    Bagaimana cara mendapatkan kredit, apakah harus ada koperasi dulu ? atau ada kelompok tani. mekanismenya seperti apa ?

    Apabila akan mengajukan ke Bank , bank mana yang ditunjuk? kalau di daerah menghubungi siapa ?

  3. saya butuh sapi bali 20 ekor dimana belinya pak?
    kalo ada kambing kurban yg layak kurang dari Rp.500.00 / ekor ada gak pak? karena saya akan beli kambing untuk persiapan kurban 2010 nanti??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s