Sejarah dan Pertumbuhan Sapi Brahman Cross di Indonesia

Brahman Namaku

Brahman Namaku

Ternak Online– Sapi Brahman Cross pada awalnya merupakan bangsa sapi Brahman Amerika yang diimpor Australia pada tahun 1933. Mulai dikembangkan di stasiun CSIRO’s Tropical Cattle Research Centre Rockhampton Australia, dengan materi dasar sapi Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25% (Turner, 1977), sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman cross cenderung lebih mirip sapi Brahman Amerika karena proporsi darahnya lebih dominan.

Sapi Brahman Cross mulai diimport Indonesia (Sulawesi) dari Australia pada tahun 1973. Hasil pengamatan di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase beranak 40,91%, Calf crops 42,54%, mortalitas pedet 5,93, mortalitas induk 2,92%, bobot sapih (8-9 bulan) 141,5 Kg (jantan) dan 138,3 Kg betina, pertambahan bobot badan sebelum disapih sebesar 0,38 Kg/ hari (Hardjosubroto, 1984)

Pada tahun 1975, sapi Brahman cross didatangkan ke pulau Sumba dengan tujuan utama untuk memperbaiki mutu genetik sapi Ongole di pulau Sumba. Importasi Brahman cross dari Australia untuk UPT perbibitan (BPTU Sembawa) dilakukan pada tahun 2000 dan 2001 dalam rangka revitalisasi UPT. Penyebaran di Indonesia dilakukan secara besar-besaran mulai tahun 2006 dalam rangka mendukung program percepatan pencapaian swasembada daging sapi 2010.

Pada umumnya pemeliharaan di rakyat memakai tali hidung, dikandangkan sendiri atau dalam kelompok kecil dalam tempat sempit, belum sepenuhnya adaptasi, ditambah lagi dengan pemberian pakan yang kurang memadai, terjadilah gangguan-gangguan reproduksi yang sering disebut sebagai slow breeder.

Terjadilah proses adaptasi yang memakan waktu cukup lama, hingga berbulan-bulan. Dengan adanya perubahan lingkungan, pakan, ditambah adanya heat stress terjadilah keadaan yang disebut depresi reproduksi (reproductive depression), sapi tidak pernah menunjukkan gejala birahi pada sapi yang belum bunting maupun setelah beranak pertama (bunting bawaan)

Rendahnya fertilitas pada sapi Brahman disebabkan oleh pengamatan birahi yang kurang akurat dengan Lama masa estrus 6,7±0,8 jam, nutrisi dan lamanya induk menyusui yang dapat menyebabkan terjadinya anestrus post partum pada sapi Brahman, lamanya waktu yang diperlukan untk pengeluaran plasenta setelah beranak, dan adanya infeksi pada uterus yang dapat mempengaruhi jarak beranak. Masalah besar yang sering timbul pada peternakan sapi Brahman di daerah tropis dan sub tropis adalah panjangnya masa anestrus post partus, hal ini disebabkan oleh makanan yang diberikan kurang berkualitas, temperatur lingkungan yang terlalu panas, infeksi parasit, penyakit reproduksi, kondisi tubuh yang kurus, dan stress akibat menyusui (Vandeplassshe, 1982)

Penelitian yang telah dilakukan oleh Turner (1977) menunjukkan Deskripsi sifat sapi Brahman Cross adalah Rata-rata angka kelahiran 81,2%, Rata-rata berat lahir 28,4 Kg, Rata-rata berat sapih 193 Kg, Kematian sebelum sapih 5,2%, Kematian umur 15 bulan 1,2% dan Kematian Dewasa 0,6%

Tabel 1.Hasil Penelitian performans produksi dan laju pertumbuhan di Indonesia
No URAIAN JENIS SAPI
Brahman Brahman Cross
1 Jarak beranak 531,1 hari (Sutan, 1988 17,1 bulan (Sumadi, 1985)
2 Berat Lahir 26,26 Kg (Sutan, 1988) 28,4 Kg (Sumadi, 1985)
3 Berat Sapih 100,1 Kg (6 bulan) (Sutan, 1988) 139,9 Kg (7-10 bulan) (Sumadi, 1993)
4 Berat Setahun 289,5 Kg (Sumadi, 1993)
5 PBBH 0,41 Kg (Sutan, 1988) 0,96 Kg (Sumadi, 1993), 0,55 Kg (Pasau, 1991), 0,29 Kg (Sumadi, 1985), 0,91 Kg (Sumadi, 1991)

2.3. Simmental-Brahman (Simbrah)
Sapi Simbrah merupakan kombinasi dari dua populasi bangsa sapi terbesar dunia yaitu Simmental dan Brahman. Sapi Simbrah harus mengandung komposisi darah Simmental minimum 3/8, darah Brahman minimum ¼, dan lainnya maksimum 3/8. Asosiasi peternak Simmental Amerika mengkualifikasikannya sebagai pure breed dengan komposisi darah Simmental 5/8 dan Brahman 3/8.

Penelitian kombinasi Simmental dilaksanakan akhir tahun 1960, tetapi baru pada tahun 1977 muncul Simbrah dan diregistrasi sebagai anggota dari Asosiasi Simmental Amerika.

Kombinasi dari kekuatan bangsa Brahman yang toleran terhadap panas, resisten terhadap penyakit dan parasit, pekerja keras, toleran terhadap pakan jelek, masa produksi anak yang lebih panjang dengan kecepatan pertumbuhan, produksi susu, karakteristik daging yang baik dan dewasa kelamin lebih muda akan menghasilkan bangsa yang superior.

Dewasa kelamin Simbrah betina dicapai pada umur 14 s/d. 15 bulan, sedangkan karkar dapat diproduksi pada umur 12 s/d. 15 bulan. Berat betina dewasa 1100 s/d. 1500 pounds, sedangkan jantan dewasa dapat mencapai 1800 s/d. 2500 pounds.

Sumber : Drh.  Gigih tri pambudi, MM

One thought on “Sejarah dan Pertumbuhan Sapi Brahman Cross di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s